Cara Menggunakan Data Analytics untuk Optimasi Iklan Kecantikan
Banyak brand kecantikan dan personal care sudah mengeluarkan budget besar untuk iklan, tetapi belum tentu tahu campaign mana yang benar-benar menghasilkan penjualan. Data seperti impressions, klik, dan engagement memang terlihat menarik, tetapi belum cukup untuk menentukan apakah budget iklan sudah digunakan secara efektif.
Padahal, bisnis beauty memiliki banyak data yang bisa dimanfaatkan untuk memahami perilaku calon pelanggan. Mulai dari produk yang paling sering dilihat, sumber traffic, hingga tahapan ketika pengguna berhenti sebelum melakukan pembelian.
Masalahnya, data tersebut sering hanya menjadi laporan bulanan tanpa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan data analytics, brand dapat mengetahui bagian mana dari campaign yang perlu dipertahankan, diperbaiki, atau dihentikan agar performa iklan menjadi lebih efisien.
Optimasi Iklan Kecantikan dengan Data Analytics
Industri beauty dan personal care mempunyai karakteristik pembelian yang cukup unik. Konsumen biasanya mempertimbangkan berbagai hal sebelum membeli, seperti manfaat produk, kandungan, harga, review, hingga kecocokan dengan kebutuhan mereka.
Karena itu, satu metrik saja tidak cukup untuk menggambarkan performa iklan. Campaign dengan CTR tinggi belum tentu menghasilkan penjualan jika pengguna yang datang tidak melakukan conversion.
Data analytics membantu menghubungkan aktivitas tersebut dengan outcome bisnis. Kamu dapat melihat perjalanan pengguna dari iklan hingga pembelian dan menemukan titik yang menyebabkan conversion meningkat atau justru menurun.
Beberapa data yang perlu diperhatikan antara lain:
- CTR dan CPC untuk melihat respons terhadap iklan.
- Conversion Rate untuk mengukur kemampuan campaign menghasilkan tindakan.
- Cost per Purchase untuk mengetahui biaya mendapatkan pelanggan.
- ROAS untuk membandingkan revenue dengan biaya iklan.
- Add to Cart dan Initiate Checkout untuk melihat minat sebelum pembelian.
Dengan begitu, optimasi tidak lagi hanya berdasarkan asumsi.
Gunakan Data untuk Menentukan Produk yang Layak Diiklankan
Tidak semua produk beauty punya potensi iklan yang sama. Data penjualan dan perilaku pengguna dapat menunjukkan produk mana yang lebih mudah menghasilkan conversion. Sebelum menentukan campaign, lihat terlebih dahulu produk yang memiliki kombinasi performa paling sehat, misalnya:
- memiliki volume penjualan tinggi.
- mendapatkan banyak kunjungan produk.
- memiliki review positif.
- mempunyai margin yang cukup.
- memiliki tingkat Add to Cart yang baik.
Misalnya, sebuah brand memiliki serum wajah, sunscreen, cleanser, dan body lotion. Jika data menunjukkan serum mendapatkan banyak kunjungan sekaligus conversion rate yang lebih tinggi, produk tersebut dapat dijadikan hero product untuk campaign acquisition.
Sementara itu, produk lain dapat digunakan dalam strategi upselling atau cross-selling setelah pelanggan masuk ke dalam funnel.
Analisis Perilaku Audience di Setiap Tahapan Funnel
Data analytics juga membantu brand memahami bahwa tidak semua pengguna berada pada tahap pembelian yang sama. Orang yang baru mengenal brand perlu pendekatan berbeda dengan pengguna yang sudah melihat produk beberapa kali. Untuk audience baru, kamu dapat menganalisis performa campaign berdasarkan:
- usia dan lokasi.
- placement.
- device.
- creative.
- interest atau audience segment.
- sumber traffic.
Sementara itu, pengguna yang sudah berinteraksi dapat dimasukkan ke dalam strategi retargeting. Contohnya, targetkan kembali pengguna yang pernah melihat produk, mengunjungi website, atau memasukkan produk ke keranjang tetapi belum menyelesaikan pembelian.
Dari sini, data dapat membantu menentukan pesan yang lebih relevan. Pengguna yang baru mengenal brand mungkin membutuhkan edukasi mengenai manfaat produk, sedangkan pengguna yang sudah berada di tahap checkout mungkin lebih membutuhkan alasan untuk segera menyelesaikan transaksi.
Jangan Hanya Analisis Campaign, Evaluasi Creative
Dalam bisnis beauty, creative memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pengguna untuk berhenti scrolling dan memperhatikan produk. Namun, visual yang terlihat menarik belum tentu menghasilkan conversion terbaik. Gunakan data untuk membandingkan beberapa jenis creative, misalnya:
- video tutorial penggunaan produk.
- before-after.
- testimonial pelanggan.
- product demonstration.
- konten edukasi ingredients.
- penawaran promo.
Perhatikan bukan hanya CTR, tetapi juga conversion yang dihasilkan masing-masing creative.
Contohnya, video tutorial mungkin memiliki CTR lebih rendah dibandingkan video promo. Namun, jika pengguna dari video tutorial menghasilkan Conversion Rate dan ROAS lebih tinggi, creative tersebut justru lebih bernilai bagi bisnis.
Inilah alasan mengapa optimasi creative sebaiknya tidak hanya berdasarkan engagement. Data conversion membantu menunjukkan materi iklan mana yang berkontribusi terhadap revenue.
Hubungkan Data Iklan dengan Landing Page
Campaign dengan CTR tinggi tetapi conversion rendah perlu dianalisis lebih jauh. Salah satu kemungkinan masalahnya berada pada landing page, bukan pada iklan.
Setelah pengguna mengklik iklan, pastikan mereka langsung menemukan informasi yang sesuai dengan pesan campaign. Untuk produk beauty, beberapa elemen yang perlu diperhatikan antara lain:
- manfaat utama produk.
- kandungan atau ingredients.
- cara penggunaan.
- review pelanggan.
- informasi harga dan promo.
- foto atau video produk.
- CTA yang mudah ditemukan.
Data analytics dapat digunakan untuk melihat apakah banyak pengguna berhenti setelah membuka halaman produk atau justru sudah masuk checkout tetapi tidak menyelesaikan transaksi.
Jika banyak pengguna berhenti pada tahap tertentu, brand memiliki dasar yang lebih jelas untuk melakukan optimasi daripada sekadar mengganti iklan secara acak.
Jadikan Data sebagai Dasar Optimasi Budget
Setelah data terkumpul, langkah berikutnya yaitu menentukan alokasi budget. Jangan hanya mempertahankan campaign karena memiliki jumlah impressions atau klik yang tinggi. Bandingkan performa campaign berdasarkan metrik yang berkaitan langsung dengan tujuan bisnis, seperti:
- Cost per Purchase.
- Conversion Rate.
- ROAS.
- Revenue.
- Customer Acquisition Cost.
- nilai transaksi.
Misalnya, Campaign A menghasilkan 1.000 klik dengan conversion rendah, sedangkan Campaign B hanya menghasilkan 600 klik tetapi memiliki ROAS lebih tinggi. Jika tujuan utama adalah penjualan, Campaign B memiliki indikasi performa yang lebih sehat.
Namun, evaluasi tetap perlu mempertimbangkan margin produk dan semua customer journey. ROAS yang tinggi belum otomatis berarti campaign paling menguntungkan jika nilai transaksi atau margin produknya rendah.
Optimasi Iklan Beauty Harus Berbasis Data, Bukan Tebakan
Data analytics membantu brand beauty melihat campaign secara lebih menyeluruh, mulai dari audience, creative, landing page, hingga conversion dan revenue. Dengan pendekatan ini, keputusan optimasi dapat dibuat berdasarkan pola perilaku pengguna, bukan sekadar asumsi.
Tujuan akhirnya bukan hanya mendapatkan lebih banyak klik atau engagement, tetapi menemukan kombinasi campaign yang mampu menghasilkan pelanggan dengan biaya yang sehat dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.
Jika brand kamu ingin membangun strategi iklan beauty dan personal care yang lebih terukur, Agile Advertising dapat membantu merancang campaign berbasis data, analisis audience dan creative, hingga mengoptimalkan performa iklan berdasarkan outcome bisnis. Hubungi tim Agile Advertising untuk mendiskusikan strategi yang sesuai!