Audience & Targeting: Panduan Menentukan Target Iklan yang Tepat Sasaran
Dua brand skincare menjalankan iklan dengan creative yang sama, daily budget yang sama, dan di platform yang sama. Brand pertama menayangkan iklannya ke semua perempuan usia 18 sampai 65 tahun di seluruh Indonesia. Brand kedua menayangkan iklannya ke perempuan usia 25 sampai 40 tahun yang pernah mengunjungi halaman produk serum, tinggal di kota yang terjangkau pengiriman instan, dan aktif mengikuti konten perawatan kulit. Dalam dua minggu, cost per conversion brand kedua jauh lebih rendah.
Perbedaannya ada pada audience & targeting. Audience & targeting adalah fondasi yang menentukan siapa yang melihat iklan Anda, kapan mereka melihatnya, dan pesan apa yang paling relevan untuk mereka. Creative sebagus apa pun akan sia-sia kalau tayang ke orang yang tidak punya kebutuhan terhadap produk Anda.
Panduan ini membahas pengertian audience targeting dan audience segmentation, alasan target audience penting dalam iklan, cara menentukan target audience sesuai objective bisnis, jenis-jenis targeting, sumber data, strategi berdasarkan funnel, cara testing, sampai best practice yang bisa langsung Anda terapkan.
Apa Itu Audience Targeting dan Audience Segmentation?
Audience targeting dan audience segmentation adalah dua proses yang saling terhubung dalam iklan digital. Segmentasi membagi calon pelanggan ke dalam kelompok, sedangkan targeting memilih kelompok mana yang akan menerima iklan beserta pesannya.
Pengertian Audience Targeting
Audience targeting adalah strategi mengarahkan iklan ke orang yang paling relevan berdasarkan karakteristik, minat, dan behavior mereka. Tujuannya adalah memperbesar peluang iklan mendapat respons berupa klik, interaksi, atau pembelian.
Dalam praktiknya, audience targeting menjawab satu pertanyaan utama: siapa yang harus melihat iklan ini, dan apa alasannya. Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan alokasi budget, pemilihan platform, format creative, sampai copy yang Anda tulis.
Pengertian Audience Segmentation
Audience segmentation adalah proses membagi seluruh calon pelanggan dan pelanggan yang sudah ada ke dalam kelompok kecil yang disebut segmen. Anggota setiap segmen punya kesamaan karakteristik yang bisa memprediksi bagaimana mereka merespons sebuah pesan atau penawaran.
Segmen bisa didefinisikan oleh satu kriteria, misalnya usia. Segmen juga bisa didefinisikan oleh gabungan beberapa kriteria, misalnya perempuan usia 25 sampai 34 tahun yang membeli produk dua kali dalam enam bulan terakhir dan belum mengunjungi website dalam 30 hari terakhir. Semakin jelas sinyal yang mendefinisikan sebuah segmen, semakin mudah Anda menyusun pesan yang tepat untuk mereka.
Perbedaan Audience Targeting dan Audience Segmentation
Audience segmentation adalah tahap mengelompokkan. Audience targeting adalah tahap memilih dan mengeksekusi. Segmentasi menghasilkan daftar kelompok, lalu targeting memutuskan kelompok mana yang menerima pesan tertentu, di channel apa, dan pada waktu kapan.
Urutannya selalu sama. Anda melakukan segmentasi terlebih dulu, kemudian menentukan target dari hasil segmentasi tersebut. Kualitas segmentasi akan langsung memengaruhi efektivitas targeting. Segmen yang terlalu luas membuat pesan iklan tidak relevan, sedangkan segmen yang terdefinisi dengan baik membuat budget terpakai untuk orang yang punya peluang konversi tinggi.
Komponen yang Membentuk Target Audience
Target audience adalah kelompok orang spesifik yang paling mungkin tertarik dan merespons produk atau layanan Anda. Untuk mendefinisikannya secara utuh, target audience meliputi lima kelompok informasi berikut:
- Data demografis, yaitu usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan status keluarga. Untuk bisnis B2B, kelompok ini mencakup jabatan, industri, dan ukuran perusahaan.
- Data geografis, yaitu negara, provinsi, kota, kode pos, sampai radius tertentu dari lokasi toko.
- Data psikografis, yaitu minat, nilai yang dianut, gaya hidup, hobi, dan sikap terhadap isu tertentu.
- Data behavioral, yaitu riwayat pembelian, produk yang dilihat, produk yang dimasukkan ke keranjang, interaksi dengan iklan, dan pola penggunaan aplikasi.
- Kebutuhan dan masalah, yaitu problem spesifik yang ingin diselesaikan audience dan alasan mereka membutuhkan produk Anda.
Kelima kelompok informasi ini saling melengkapi. Data demografis menjelaskan siapa orangnya, data geografis menjelaskan di mana mereka berada, data psikografis menjelaskan apa yang mereka pedulikan, data behavioral menjelaskan apa yang sudah mereka lakukan, dan kebutuhan menjelaskan kenapa mereka akan membeli.
Kenapa Menentukan Target Audience Penting dalam Iklan?
Target audience menentukan ke mana setiap rupiah budget iklan Anda mengalir. Keputusan tentang audience diambil di awal, lalu setiap keputusan berikutnya, mulai dari budget, channel, creative, sampai bidding, dibangun di atasnya. Kalau targeting keliru, setiap langkah setelahnya justru memperbesar kesalahan tersebut.
Berikut alasan konkret kenapa audience targeting berpengaruh besar terhadap performa iklan.
Budget Terpakai untuk Orang yang Berpotensi Membeli
Setiap impressions yang tayang ke orang yang tidak relevan adalah biaya yang tidak menghasilkan apa pun. Targeting yang tepat memastikan budget terkonsentrasi pada kelompok yang punya kebutuhan, kemampuan membeli, dan bisa dijangkau lewat channel yang Anda gunakan. Hasilnya, cost per conversion turun dan return on ad spend (ROAS) naik.
Pesan Iklan Menjadi Lebih Relevan
Pesan yang ditulis untuk semua orang tidak akan terasa relevan bagi siapa pun. Saat audience sudah terdefinisi, Anda bisa menyesuaikan bahasa, penawaran, dan visual dengan konteks mereka. Ibu muda yang mencari popok untuk bayi baru lahir membutuhkan pesan yang berbeda dengan ibu yang anaknya sudah berusia dua tahun, walaupun keduanya membeli kategori produk yang sama.
Performa Lebih Mudah Diukur dan Dioptimasi
Segmen yang jelas membuat data performa lebih mudah dibaca. Ketika satu ad set menargetkan pengunjung website dan ad set lain menargetkan audience baru berbasis minat, Anda bisa melihat dengan pasti segmen mana yang menghasilkan konversi paling efisien. Tanpa pemisahan ini, angka performa bercampur dan keputusan optimasi menjadi tebakan.
Algoritma Platform Belajar Lebih Cepat
Platform seperti Meta Ads, TikTok Ads, dan Google Ads mengoptimasi penayangan berdasarkan sinyal yang mereka terima. Targeting awal yang relevan memberi algoritma contoh orang yang tepat, sehingga fase learning lebih cepat selesai dan penayangan berikutnya lebih akurat.
Hubungan dengan Pelanggan Lama Lebih Terjaga
Targeting juga berfungsi untuk mengecualikan. Pelanggan yang baru saja membeli tidak perlu melihat iklan diskon untuk pembeli pertama. Menampilkan iklan akuisisi ke pelanggan lama membuang budget dan bisa membuat mereka merasa tidak dihargai.
Cara Menentukan Target Audience yang Sesuai dengan Objective Bisnis
Menentukan target audience untuk iklan selalu dimulai dari objective bisnis. Urutan kerjanya adalah menetapkan hasil yang ingin dicapai, mengidentifikasi karakteristik pelanggan yang paling mungkin menghasilkan hasil tersebut, lalu mencari sumber data yang bisa menemukan orang dengan karakteristik itu.
Berikut tujuh langkah yang bisa Anda ikuti.
1. Tetapkan Objective Bisnis yang Terukur
Tulis objective dalam bentuk angka dan tenggat waktu. Contohnya, menaikkan repeat purchase dari pembeli pertama sebesar 15% dalam tiga bulan, atau mendapatkan 300 leads untuk produk properti dalam satu bulan. Objective yang terukur akan menentukan jenis audience yang Anda butuhkan.
Setiap objective punya kebutuhan audience yang berbeda:
- Awareness membutuhkan audience luas yang sesuai profil pelanggan ideal tetapi belum mengenal brand Anda.
- Consideration membutuhkan audience yang sudah menunjukkan minat, misalnya pernah menonton video atau mengunjungi website.
- Conversion membutuhkan audience dengan intent tinggi, misalnya pengunjung halaman produk atau orang yang meninggalkan keranjang belanja.
- Retention membutuhkan pelanggan yang sudah pernah membeli dan berpotensi membeli lagi.
2. Pelajari Pelanggan yang Sudah Ada
Pelanggan terbaik Anda saat ini adalah petunjuk paling akurat untuk menemukan pelanggan berikutnya. Tarik data dari CRM, dashboard marketplace, Google Analytics, atau database transaksi, lalu cari pola yang berulang.
Pertanyaan yang perlu dijawab dari data tersebut:
- Berapa rentang usia dan jenis kelamin pembeli yang paling sering bertransaksi?
- Dari kota mana pesanan paling banyak datang?
- Produk apa yang paling sering dibeli pertama kali, dan produk apa yang dibeli setelahnya?
- Berapa rata-rata nilai transaksi dan jarak waktu antar pembelian?
- Channel mana yang paling sering mengantarkan pembeli pertama?
3. Susun Profil Pelanggan Ideal atau Buyer Persona
Gabungkan temuan dari data pelanggan menjadi satu sampai tiga buyer persona. Setiap persona berisi data demografis, lokasi, minat, behavior online, masalah yang ingin diselesaikan, dan alasan memilih produk Anda.
Contoh persona untuk brand perlengkapan bayi: perempuan usia 26 sampai 33 tahun, tinggal di Jabodetabek, baru memiliki anak pertama, aktif mengikuti akun parenting di Instagram dan TikTok, berbelanja kebutuhan bayi lewat marketplace, dan mengutamakan produk yang aman untuk kulit sensitif.
4. Uji Calon Audience dengan Tiga Filter
Setiap calon segmen perlu lolos tiga filter sebelum Anda menghabiskan budget untuknya.
Filter Kebutuhan
Apakah kelompok ini punya masalah yang diselesaikan produk Anda? Software manajemen proyek untuk desainer freelance punya profil kebutuhan yang berbeda dengan software yang ditujukan untuk tim IT perusahaan besar.
Filter Akses
Apakah Anda bisa menjangkau kelompok ini lewat channel yang Anda miliki atau yang bisa Anda beli? Segmen eksekutif senior yang jarang menggunakan media sosial tidak cocok untuk kampanye paid social, walaupun profil mereka sangat sesuai dengan pelanggan ideal Anda.
Filter Nilai
Apakah potensi pendapatan dari kelompok ini sepadan dengan biaya untuk menjangkaunya? Segmen dengan conversion rate tinggi tetapi nilai transaksi rata-rata di bawah batas cost per acquisition Anda justru menggerus margin.
5. Terjemahkan Persona ke Opsi Targeting di Platform
Setelah persona jelas, ubah setiap atributnya ke opsi targeting yang tersedia di platform iklan. Lokasi menjadi geo targeting, usia dan jenis kelamin menjadi demographic targeting, minat menjadi interest targeting, dan riwayat interaksi menjadi custom audience atau retargeting.
Perlu diingat, setiap platform punya batasan yang berbeda. Meta Ads memungkinkan pengaturan usia per satu tahun, sedangkan TikTok Ads menggunakan rentang usia yang sudah ditentukan. Beberapa platform hanya mendukung targeting di tingkat kota tertentu, sementara platform lain menggunakan wilayah metropolitan. Cek pilihan yang tersedia di setiap platform sebelum menyusun struktur campaign.
6. Tentukan Audience yang Dikecualikan
Targeting yang baik juga mencantumkan siapa yang tidak perlu melihat iklan. Kecualikan pembeli yang baru bertransaksi dari campaign akuisisi, kecualikan karyawan dari audience website, dan kecualikan pelanggan yang sudah berhenti berlangganan dari campaign promosi. Langkah ini sering terlewat padahal dampaknya langsung terasa pada efisiensi budget.
7. Validasi Ukuran Audience
Periksa estimasi jangkauan yang ditampilkan platform. Audience yang terlalu kecil membuat biaya per impressions mahal dan algoritma kesulitan mengoptimasi. Audience yang terlalu luas membuat pesan kehilangan relevansi. Tentukan ukuran yang seimbang dengan daily budget Anda, lalu sesuaikan setelah campaign berjalan dan data mulai terkumpul.
Jenis-Jenis Audience Targeting yang Umum Digunakan
Jenis audience targeting dibedakan berdasarkan sinyal data yang dipakai untuk menemukan audience. Empat jenis utama adalah targeting demografis, geografis, psikografis, dan behavioral. Di luar empat jenis ini, platform iklan juga menyediakan targeting kontekstual, intent-based, custom audience, retargeting, dan lookalike.
Memilih jenis targeting yang tidak sesuai dengan objective campaign adalah salah satu penyebab paling umum budget iklan terbuang. Karena itu, pahami fungsi setiap jenis sebelum menggabungkannya.
Demographic Targeting
Demographic targeting mengelompokkan audience berdasarkan usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, status pernikahan, status orang tua, dan pekerjaan. Jenis targeting ini menjawab pertanyaan siapa orangnya.
Demographic targeting paling efektif untuk campaign awareness yang ditujukan ke populasi dengan profil jelas. Contohnya, brand skincare anti-aging menargetkan perempuan usia 35 sampai 55 tahun, atau software akuntansi menargetkan pemilik usaha dan manajer keuangan.
Geographic Targeting
Geographic targeting mengelompokkan audience berdasarkan lokasi, mulai dari negara, provinsi, kota, kode pos, sampai radius beberapa kilometer dari titik tertentu. Jenis ini menjawab pertanyaan di mana orangnya berada.
Geographic targeting wajib digunakan untuk bisnis dengan toko fisik, layanan berbasis area, promo yang hanya berlaku di kota tertentu, atau produk dengan batasan jangkauan pengiriman. Restoran yang membuka cabang baru di Bekasi, misalnya, cukup menargetkan radius 5 sampai 10 kilometer dari lokasi cabang tersebut.
Psychographic Targeting atau Interest Targeting
Psychographic targeting mengelompokkan audience berdasarkan minat, nilai, gaya hidup, dan sikap. Jenis ini menjawab pertanyaan apa yang dipedulikan audience.
Targeting ini efektif untuk campaign brand positioning yang mengandalkan kedekatan emosional. Brand skincare organik bisa menargetkan orang yang tertarik pada produk natural dan gaya hidup ramah lingkungan. Brand perlengkapan hewan peliharaan bisa menargetkan orang yang mengikuti akun pet care, toko pet shop, dan merek makanan hewan.
Di platform iklan, psychographic targeting tersedia dalam bentuk interest targeting atau affinity audience, yaitu kelompok orang yang menunjukkan ketertarikan kuat pada topik tertentu seperti kuliner, olahraga, atau traveling.
Behavioral Targeting
Behavioral targeting mengelompokkan audience berdasarkan tindakan yang sudah mereka lakukan secara online. Sinyalnya mencakup kategori dan produk yang dilihat, produk yang dimasukkan ke keranjang, produk yang dibeli, interaksi dengan iklan, dan pola penggunaan aplikasi. Jenis ini menjawab pertanyaan apa yang sudah dilakukan audience.
Behavioral targeting efektif untuk campaign retargeting dan upsell karena sinyalnya mencerminkan intent yang sudah terbukti. Orang yang baru saja melihat tiga halaman produk sepatu lari punya peluang membeli yang jauh lebih tinggi dibanding orang yang hanya tercatat tertarik pada olahraga.
Contextual Targeting
Contextual targeting menayangkan iklan berdasarkan isi konten yang sedang dikonsumsi audience, tanpa memakai data individu. Iklan peralatan masak tayang di artikel resep, iklan sepatu lari tayang di video tutorial lari, dan iklan asuransi perjalanan tayang di website tentang destinasi wisata.
Perbedaannya dengan behavioral targeting terletak pada sumber sinyal. Behavioral targeting memakai riwayat aktivitas pengguna, sedangkan contextual targeting memakai konteks halaman atau konten. Contextual targeting semakin relevan seiring ketatnya aturan privasi data, walaupun presisinya lebih rendah untuk campaign bottom funnel.
Intent-Based Targeting atau In-Market Audience
Intent-based targeting menjangkau orang yang sedang aktif mencari atau membandingkan produk dalam kategori tertentu. Sinyalnya berasal dari kata kunci pencarian, aktivitas browsing, dan konten yang dikonsumsi dalam beberapa hari terakhir.
Jenis ini paling efektif untuk paid search dan campaign conversion karena mencerminkan pertimbangan membeli yang sedang berlangsung. Google Ads menyediakannya dalam bentuk in-market audience, misalnya orang yang sedang mencari mobil bekas atau paket liburan.
Custom Audience dan Customer Match
Custom audience dibangun dari data milik Anda sendiri, seperti daftar email pelanggan, nomor telepon, pengunjung website, pengguna aplikasi, atau orang yang berinteraksi dengan akun media sosial Anda. Customer match bekerja dengan mengunggah daftar pelanggan ke platform iklan, lalu platform mencocokkannya dengan akun pengguna.
Custom audience berguna untuk menjangkau kembali pelanggan lama dengan penawaran baru, menjalankan campaign loyalitas, atau mengecualikan pelanggan dari campaign akuisisi.
Retargeting
Retargeting menargetkan orang yang pernah mengunjungi website atau aplikasi Anda tetapi belum menyelesaikan transaksi. Audience ini berada paling dekat dengan keputusan membeli, sehingga biasanya menghasilkan ROAS jangka pendek paling tinggi.
Retargeting bisa dibagi lagi berdasarkan kedalaman interaksi. Pengunjung homepage, pengunjung halaman produk, dan orang yang meninggalkan keranjang belanja sebaiknya menerima pesan yang berbeda karena tingkat intent mereka berbeda.
Lookalike Audience
Lookalike audience adalah audience baru yang dibangun platform dengan machine learning berdasarkan kemiripan karakteristik dan behavior dengan audience sumber. Audience sumber biasanya berupa daftar pembeli, pelanggan dengan nilai transaksi tertinggi, atau pengunjung yang melakukan konversi.
Lookalike audience efektif untuk prospecting saat brand ingin menjangkau orang baru dengan kualitas yang mendekati pelanggan terbaiknya. Semakin berkualitas audience sumbernya, semakin akurat hasil lookalike yang dibentuk.
Cara Memilih Jenis Targeting Berdasarkan Objective
Setiap jenis targeting cocok untuk kebutuhan yang berbeda. Gunakan panduan berikut sebagai titik awal:
- Awareness: demographic targeting, geographic targeting, interest targeting, dan contextual targeting.
- Prospecting audience baru dengan kualitas tinggi: lookalike audience dan interest targeting.
- Consideration: retargeting pengunjung website dan orang yang menonton video, ditambah intent-based targeting.
- Conversion: retargeting halaman produk dan keranjang belanja, intent-based targeting, dan customer match.
- Retention dan upsell: custom audience dari daftar pembeli dan behavioral targeting berdasarkan riwayat pembelian.
Karakteristik audience juga sangat dipengaruhi oleh industri. Audience bisnis F&B, fashion, properti, kesehatan, dan pendidikan punya pola behavior yang berbeda. Anda bisa melihat industri yang kami handle untuk memahami bagaimana pendekatan targeting disesuaikan dengan setiap sektor.
Sumber Data yang Dapat Digunakan untuk Targeting
Setiap segmen audience hanya seakurat data yang membentuknya. Sumber data untuk audience targeting terbagi menjadi tiga tingkatan: first-party data, second-party data, dan third-party data. Selain itu, platform iklan juga menyediakan data bawaan yang bisa Anda gunakan langsung saat menyusun campaign.
First-Party Data
First-party data adalah data yang dikumpulkan langsung oleh bisnis Anda dari pelanggan. Contohnya daftar pelanggan di CRM, data transaksi di sistem kasir atau POS, riwayat pembelian di marketplace, pengunjung website yang terekam lewat pixel, pengguna aplikasi, subscriber email, dan followers media sosial.
Kelebihan first-party data:
- Akurat, karena mencerminkan interaksi nyata pelanggan dengan brand Anda.
- Gratis, karena dikumpulkan dari aset milik sendiri.
- Audience-nya sudah mengenal brand, sehingga peluang konversinya lebih tinggi.
Kekurangannya, jumlah first-party data pada banyak bisnis belum cukup besar untuk menjalankan campaign dalam skala luas. Solusinya, gunakan first-party data sebagai audience sumber untuk lookalike audience.
Cara Mengumpulkan First-Party Data
- Pasang Meta Pixel, TikTok Pixel, dan Google Tag di website, lalu aktifkan Conversions API agar pelacakan tetap akurat.
- Sediakan formulir pendaftaran, newsletter, atau program member dengan persetujuan penggunaan data yang jelas.
- Rapikan database pelanggan secara berkala, hapus data ganda, dan perbarui informasi yang sudah tidak valid.
- Hubungkan data dari marketplace, website, dan toko offline agar profil pelanggan tidak terpecah.
Second-Party Data
Second-party data adalah first-party data milik organisasi lain yang dibagikan kepada Anda melalui kerja sama langsung. Contohnya, maskapai penerbangan dan jaringan hotel saling berbagi data pemesanan dalam program kemitraan, atau brand susu formula bekerja sama dengan klinik anak.
Second-party data memperluas jangkauan audience sambil tetap menjaga kejelasan asal-usul data. Pastikan kerja sama ini diatur dalam perjanjian tertulis dan sesuai aturan perlindungan data pribadi yang berlaku.
Third-Party Data
Third-party data adalah data yang dikumpulkan dan dijual oleh penyedia data, biasanya melalui data management platform (DMP) atau demand-side platform (DSP). Kelebihannya terletak pada volume, sehingga cocok untuk memperluas jangkauan campaign dengan cepat.
Kekurangannya, third-party data semakin terbatas. Peramban dan sistem operasi terus memperketat pelacakan lintas situs demi melindungi privasi pengguna, sehingga akurasi dan ketersediaan third-party data menurun. Kondisi ini membuat strategi first-party data menjadi keunggulan kompetitif yang nyata.
Data Bawaan Platform Iklan
Meta Ads, TikTok Ads, Google Ads, dan platform iklan marketplace memiliki data pengguna sendiri yang dipakai untuk opsi targeting demografis, minat, behavior, dan in-market audience. Data ini bisa langsung Anda gunakan tanpa biaya tambahan di luar biaya iklan.
Beberapa platform juga menyediakan audience bawaan yang memadukan data platform dengan data pihak ketiga, misalnya kategori pemilik hewan peliharaan atau pembeli di toko tertentu. Eksplorasi pilihan yang tersedia di setiap platform, karena kelengkapan dan cara kerjanya berbeda satu sama lain.
Privasi dan Persetujuan Pengguna
Penggunaan data untuk targeting wajib memperhatikan persetujuan pengguna. Di Indonesia, pengelolaan data pribadi diatur dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Pastikan data pelanggan dikumpulkan dengan persetujuan yang jelas, disimpan dengan aman, dan pengguna yang menolak pelacakan tidak dimasukkan ke dalam segmen targeting.
Strategi Targeting Berdasarkan Customer Journey dan Funnel
Segmen yang sama bisa ditargetkan dengan strategi yang sangat berbeda, tergantung posisi audience dalam perjalanan pembelian. Orang yang baru pertama kali melihat brand Anda membutuhkan pengenalan. Orang yang sudah membandingkan harga membutuhkan alasan untuk memilih Anda. Pelanggan yang sudah membeli membutuhkan alasan untuk kembali.
Karena itu, susun struktur campaign per tahap funnel, lalu tentukan audience, pesan, dan metrik untuk setiap tahap.
Top of Funnel (TOFU): Awareness
Tahap ini menjangkau orang yang sesuai profil pelanggan ideal tetapi belum mengenal brand Anda.
Audience yang Digunakan
- Broad audience dengan batasan lokasi, usia, dan jenis kelamin.
- Interest targeting yang relevan dengan kategori produk.
- Lookalike audience dari daftar pembeli.
- Contextual targeting di konten yang berkaitan dengan kategori Anda.
Pesan dan Metrik
Pesan di tahap ini memperkenalkan brand, masalah yang diselesaikan produk, dan keunggulan utamanya. Metrik yang dipantau adalah reach, impressions, CPM, video view rate, dan biaya per ThruPlay atau per video view.
Wajib kecualikan pembeli dan pengunjung website dari audience TOFU agar budget akuisisi tidak terpakai untuk orang yang sudah mengenal brand.
Middle of Funnel (MOFU): Consideration
Tahap ini menargetkan orang yang sudah menunjukkan minat tetapi belum siap membeli.
Audience yang Digunakan
- Orang yang menonton video iklan minimal 50% atau 75%.
- Orang yang berinteraksi dengan akun Instagram, Facebook, atau TikTok dalam 30 sampai 90 hari terakhir.
- Pengunjung website dalam 30 hari terakhir yang belum melihat halaman produk.
- Intent-based atau in-market audience untuk kategori produk Anda.
Pesan dan Metrik
Pesan di tahap ini berisi bukti dan pembeda, misalnya testimoni pelanggan, perbandingan produk, demo penggunaan, atau konten edukasi. Metrik yang dipantau adalah CTR, CPC, landing page view, engagement rate, dan jumlah add to cart.
Bottom of Funnel (BOFU): Conversion
Tahap ini menargetkan audience dengan intent tertinggi dan paling dekat dengan keputusan membeli.
Audience yang Digunakan
- Pengunjung halaman produk dalam 7 sampai 14 hari terakhir.
- Orang yang menambahkan produk ke keranjang tetapi belum checkout.
- Orang yang memulai checkout tetapi tidak menyelesaikan pembayaran.
- Customer match dari leads yang belum menjadi pelanggan.
Pesan dan Metrik
Pesan di tahap ini mendorong tindakan, misalnya pengingat produk yang tertinggal di keranjang, gratis ongkir, garansi, atau penawaran dengan batas waktu. Iklan dinamis yang menampilkan produk yang pernah dilihat audience sangat efektif di tahap ini. Metrik yang dipantau adalah conversion rate, cost per conversion, cost per acquisition, dan ROAS.
Retention: Loyalitas dan Repeat Purchase
Tahap ini menargetkan pelanggan yang sudah membeli untuk mendorong pembelian ulang, upsell, dan cross-sell.
Audience yang Digunakan
Segmentasi RFM (recency, frequency, monetary) sangat membantu di tahap ini. Pelanggan dibagi berdasarkan seberapa baru mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa besar nilai pembeliannya.
- Pelanggan yang baru membeli, sering membeli, dan bernilai tinggi menerima penawaran loyalitas atau akses awal produk baru.
- Pelanggan bernilai tinggi yang sudah lama tidak membeli menerima campaign win-back.
- Pembeli produk tertentu menerima iklan produk pelengkap, misalnya pembeli kamera menerima iklan lensa dan tas kamera.
Pesan dan Metrik
Pesan di tahap ini menekankan apresiasi, rekomendasi produk yang relevan, dan program member. Metrik yang dipantau adalah repeat purchase rate, customer lifetime value, dan ROAS dari campaign retention.
Sequential Targeting untuk Menggerakkan Audience Antar Tahap
Sequential targeting menayangkan rangkaian pesan dalam urutan tertentu agar audience bergerak dari satu tahap funnel ke tahap berikutnya. Contohnya, audience melihat video pengenalan produk di TOFU, lalu orang yang menonton minimal 50% video tersebut menerima iklan testimoni di MOFU, kemudian pengunjung halaman produk menerima iklan penawaran gratis ongkir di BOFU.
Strategi ini efektif untuk produk dengan nilai transaksi tinggi atau proses pertimbangan panjang, seperti properti, pendidikan, kendaraan, dan software B2B, karena satu kali paparan iklan jarang cukup untuk mendorong keputusan membeli.
Pembagian Budget Antar Tahap Funnel
Pembagian budget mengikuti objective dan kondisi brand. Brand baru dengan audience retargeting yang masih kecil perlu mengalokasikan porsi lebih besar ke TOFU agar kolam audience MOFU dan BOFU terisi. Brand yang sudah punya traffic stabil bisa mengalokasikan porsi lebih besar ke BOFU dan retention untuk memaksimalkan konversi. Evaluasi pembagian ini setiap bulan berdasarkan ukuran audience retargeting dan ROAS di setiap tahap.
Cara Melakukan Testing dan Optimization Audience
Audience yang performanya bagus bulan ini bisa menurun bulan depan. Behavior pelanggan berubah, kompetitor baru masuk, dan algoritma platform terus diperbarui. Karena itu, audience targeting perlu diuji dan dioptimasi secara rutin dengan jadwal yang jelas.
Mulai dengan Hipotesis yang Spesifik
Setiap pengujian audience membutuhkan satu hipotesis tentang alasan sebuah kelompok akan merespons secara berbeda. Contoh hipotesis: lookalike 1% dari pembeli dengan nilai transaksi tertinggi akan menghasilkan cost per conversion lebih rendah dibanding lookalike 1% dari seluruh pembeli.
Hipotesis yang spesifik membuat hasil pengujian langsung bisa dipakai untuk mengambil keputusan alokasi budget.
Jalankan A/B Testing Audience dengan Benar
A/B testing audience membandingkan dua atau lebih segmen dengan creative, budget, dan objective yang sama. Satu-satunya variabel yang berubah adalah audience.
Langkah Menjalankan A/B Testing Audience
- Pilih satu variabel audience yang akan diuji, misalnya interest targeting dibandingkan lookalike audience.
- Buat ad set terpisah untuk setiap varian dengan creative dan daily budget yang identik.
- Gunakan fitur A/B test bawaan platform agar audience tidak saling tumpang tindih.
- Jalankan pengujian minimal 7 hari agar data mencakup pola hari kerja dan akhir pekan.
- Tentukan metrik pemenang sejak awal, misalnya cost per conversion atau ROAS.
- Ambil keputusan setelah setiap varian mengumpulkan jumlah konversi yang cukup untuk dibandingkan.
Variabel Audience yang Layak Diuji
- Broad audience dibandingkan interest targeting.
- Lookalike 1% dibandingkan lookalike 3% sampai 5%.
- Audience sumber lookalike yang berbeda, misalnya pembeli seluruhnya dibandingkan pembeli bernilai tinggi.
- Rentang waktu retargeting, misalnya pengunjung 7 hari dibandingkan 30 hari.
- Batas behavior, misalnya pengunjung yang melihat tiga halaman produk dibandingkan lima halaman produk.
- Satu audience gabungan dibandingkan beberapa ad set yang dipisah per segmen.
Mulai Luas, Lalu Persempit Berdasarkan Data
Saat belum punya data performa, mulailah dengan audience yang cukup luas, lalu persempit berdasarkan hasil. Pecah audience berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi, atau penempatan iklan melalui laporan breakdown di platform. Alihkan budget ke kelompok dengan cost per conversion terendah dan kurangi budget dari kelompok yang boros.
Pantau Sinyal Audience yang Mulai Menurun
Berdasarkan riset tim Agile Advertising, ada beberapa sinyal yang menandakan audience perlu dievaluasi ulang.
Frequency yang Terlalu Tinggi
Frequency menunjukkan rata-rata berapa kali satu orang melihat iklan Anda.
Frequency = Impressions ÷ Reach
Frequency yang terus naik diikuti CTR yang menurun menandakan audience mulai jenuh. Atasi dengan memperluas audience, menambah variasi creative, atau mengatur frequency cap per pengguna per minggu.
Audience Overlap Lebih dari 30%
Audience overlap adalah persentase anggota yang sama di antara dua audience yang Anda perlakukan sebagai segmen berbeda.
Audience Overlap (%) = (Jumlah Anggota yang Sama ÷ Ukuran Audience Terkecil) × 100%
Riset tim Agile Advertising menunjukkan overlap di atas 30% membuat dua segmen tidak cukup berbeda untuk menerima pesan terpisah. Kondisi ini juga membuat ad set Anda saling bersaing di lelang iklan yang sama. Gabungkan kedua audience atau kecualikan salah satunya dari ad set lain.
CTR Menurun Tanpa Perubahan Creative
Kalau CTR turun dari bulan ke bulan sementara creative tidak berubah, segmen tersebut kemungkinan sudah jenuh atau definisinya tidak lagi akurat.
Ukuran Audience Tumbuh Lebih Cepat dari Jumlah Pelanggan
Kondisi ini biasanya disebabkan masalah kualitas data, misalnya profil pelanggan ganda atau pelacakan yang mencatat konversi berulang. Periksa pengaturan pixel dan kebersihan database sebelum mengubah strategi targeting.
Engagement Rendah dengan Reach Tinggi
Reach yang besar dengan engagement rate, waktu di halaman, dan video completion rate yang rendah menandakan definisi audience terlalu luas. Persempit segmen dengan menambahkan sinyal behavior atau minat yang lebih spesifik.
Jadwal Optimization Audience
Susun jadwal evaluasi tetap agar penurunan performa terdeteksi lebih awal:
- Mingguan: pantau frequency, CTR, dan cost per conversion setiap ad set.
- Bulanan: review conversion rate setiap segmen dan audit perubahan ukuran audience yang tidak wajar.
- Setiap tiga bulan: uji ulang batas setiap segmen untuk memastikan definisinya masih sesuai dengan behavior pelanggan.
- Setiap 90 hari: pensiunkan atau audit ulang segmen yang tidak dipakai dalam 90 hari terakhir sebelum digunakan kembali.
Best Practice Menentukan Target Iklan yang Tepat Sasaran
Best practice berikut merangkum prinsip yang paling berpengaruh terhadap efisiensi audience & targeting di berbagai platform iklan.
Definisikan Segmen Berdasarkan Kebutuhan
Hindari mendefinisikan segmen berdasarkan channel, misalnya “audience Facebook kami”. Definisikan segmen berdasarkan kebutuhan dan sinyal yang terukur, misalnya “orang yang mencari produk kompetitor dalam 30 hari terakhir”. Segmen seperti “semua perempuan usia 25 sampai 54 tahun” hanya deskripsi demografis dan belum bisa disebut strategi targeting.
Cocokkan Jenis Targeting dengan Tahap Funnel
Gunakan intent-based targeting dan retargeting untuk campaign conversion, gunakan lookalike dan interest targeting untuk prospecting, dan gunakan demographic serta contextual targeting untuk awareness. Ketidaksesuaian antara jenis targeting dan objective adalah sumber pemborosan budget yang paling sering terjadi.
Prioritaskan First-Party Data
Bangun dan rawat first-party data sejak sekarang. Pasang pixel dengan benar, aktifkan Conversions API, kumpulkan data pelanggan dengan persetujuan yang jelas, dan gunakan daftar pembeli sebagai audience sumber lookalike. Brand dengan first-party data yang kuat punya segmen yang lebih akurat dibanding brand yang hanya mengandalkan opsi bawaan platform.
Selalu Gunakan Exclusion Targeting
Kecualikan pembeli dari campaign akuisisi, kecualikan audience BOFU dari campaign TOFU, dan kecualikan pelanggan yang sudah berhenti berlangganan dari campaign promosi. Exclusion targeting sering memberi dampak efisiensi paling cepat karena langsung menghilangkan pemborosan.
Sesuaikan Pesan untuk Setiap Segmen
Targeting yang tepat perlu dipasangkan dengan creative yang relevan. Pengunjung yang meninggalkan keranjang membutuhkan pengingat dan insentif, sedangkan audience baru membutuhkan pengenalan brand. Siapkan variasi copy dan visual untuk setiap segmen utama.
Beri Algoritma Ruang untuk Belajar
Audience yang terlalu sempit menyulitkan algoritma platform menemukan orang yang paling mungkin melakukan konversi. Hindari menumpuk terlalu banyak filter minat dan demografis sekaligus. Biarkan campaign melewati fase learning sebelum melakukan perubahan besar pada audience.
Atur Frequency Cap dan Rotasi Creative
Paparan iklan yang sama terlalu sering membuat audience jenuh dan menurunkan persepsi terhadap brand. Tentukan batas maksimal impressions per pengguna per minggu, lalu rotasi creative sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.
Dokumentasikan Setiap Pengujian
Catat hipotesis, definisi audience, periode pengujian, budget, metrik, dan hasil setiap tes. Dokumentasi ini mencegah Anda mengulang pengujian yang sama dan mempercepat keputusan untuk campaign berikutnya.
Review Segmen Secara Berkala
Segmen yang dibuat sekali di awal campaign lalu tidak pernah dievaluasi akan kehilangan akurasi seiring waktu. Jadwalkan review bulanan untuk segmen aktif dan analisis menyeluruh setiap tiga bulan untuk seluruh struktur audience.
Patuhi Aturan Privasi Data
Pastikan setiap segmen dibangun dari data yang dikumpulkan dengan persetujuan pengguna dan sesuai UU PDP. Pengguna yang menolak pelacakan harus otomatis keluar dari segmen targeting.
Tentukan Target Iklan Lebih Tepat Bersama Agile Advertising
Menyusun audience & targeting yang efektif membutuhkan data yang rapi, struktur campaign yang sesuai funnel, dan pengujian yang konsisten. Kalau tim Anda belum punya waktu atau sumber daya untuk menjalankan semua itu, Agile Advertising siap membantu.
Agile Advertising adalah agensi digital ads yang fokus membantu bisnis tumbuh melalui strategi iklan yang cerdas dan berbasis data. Sejak 2021, Agile Advertising telah membantu lebih dari 150 brand lintas industri menjalankan Search Ads, Social Media Ads, Video Ads, Display Ads, Audio Ads, dan E-Com Ads di Meta, TikTok, Google, Shopee, dan Tokopedia.
Tim Agile Advertising menyusun segmentasi audience dari data bisnis Anda, membangun struktur campaign, menjalankan A/B testing audience secara rutin, dan melaporkan hasilnya dengan transparan. Anda tetap memegang keputusan akhir atas setiap iklan, dan kerja sama berjalan per bulan tanpa kontrak jangka panjang.
Pelajari paket layanan Agile untuk menemukan skema yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda. Untuk konsultasi lebih lanjut, hubungi tim kami melalui halaman kontak Agile Advertising atau langsung lewat WhatsApp.